Suatu hari disebuah taman, seorang pemuda sedang duduk
menikmati cemilan yang ia beli sebelumnya. Dengan begitu hikmat ia menikmati
rasa makanan tersebut.
Setelah beberapa saat, cemilan yang tadinya ia nikmati telah
habis. Dengan rasa yang begitu menggoda, ia kepikiran untuk membelinya lagi.
Lalu dengan cepat dia berdiri, namun sebelum ia berjalan
pergi membeli cemilan, ia melemparkan begitu saja bungkus cemilan yang sudah
habis tadi ke sembarang tempat.
Ketika hendak pergi dan baru satu langkah kaki yang ia
gerakkan, tiba-tiba dia mendengar suara.
“Hey Pemuda!”
Dengan cepat pemuda tadi membalikkan badannya untuk mengetahui
siapa yang memanggilnya.
Lantas pemuda itu terkejut siapa yang berbicara kepadanya.
Ternyata yang berbicara tadi adalah bungkus cemilan yang ia buang tadi.
“Hey Pemuda! Kenapa engkau malah membuangku di tempat
seperti ini!” Bungkus cemilan itu berbicara dengan lantang.
Kemudian dengan santainya si pemuda menjawab.
“Memangnya kenapa? Apakah salah aku membuangmu ditempat yang
bersih seperti ini. Daripada aku malah membuangmu ditempat kotor, lebih baik
aku membuangmu disini. Lagipula engkau itukan sampah.”
Mendengar jawaban pemuda itu, bungkus cemilan tadi tidak
terima dengan perkataan seperti itu.
“Baik aku beritahun wahai pemuda! Aku memang sampah, sampah
memang tidak bagus dan kotor. Tapi apakah engkau tahu kalau membuangku di
tempat bersih adalah kesalahan besar. Dan sebuah kesalahan juga jika engkau
membuangku ke tempat sembarangan yang kotor.”
Pemuda itu heran apa yang dibicarakan bungkus cemilan tadi.
“Wahai pemuda! Kami memang sampah, jika kami dibuang ke
sembarang tempat, maka tempat itu tidak layak bagi kami, jika engkau membuang
kami ke tempat yang bersih, tempat itu tidak bersih lagi karena kami. Dan akhirnya
kami yang disalahkan. Lalu jika engkau membuang kami ke sembarang tempat yang
kotor. Bencana seperti banjir menyerang, lalu siapa yang disalahkan? Yang disalahkan
kami para sampah! Kami tidak terima dengan itu!”
Pemuda itu hanya terdiam setelah mendengar perkataan dari
sampah tadi.
“Dan yang terakhir wahai pemuda. Kami memang sampah, tapi
ketahuilah kami juga punya tempat yang layak. Tempat yang layak bagi kami yaitu
tempat pembuangan sampah. Disanalah kami dikumpulkan, kami tingaal bersama
disana, kami mendapat teman disana, kami semua hidup disana. Kuberitahu engkau
wahai pemuda. Dengarkan ini baik-baik. Manusia yang membuang sampah ke tempat
sampah, kami anggap ia manusia. Tetapi manusia yang membuang sampah bukan ke
tempat sampah. Manusia itu kami anggap sampah.”
Seketika itu susana langsung hening, pemuda itu terdiam kaku
mendengar perkataan terakhir dari sampah itu. Setelah itu ia sadar akan hal
yang ia perbuat. Dengan cepat ia mengambil bungkus cemilan yang tadi ia buang,
kemudian ia berjalan menuju tempat sampah. Dan membuang bungkus cemilan yang
telah ia ambil tadi.
Dalam hati, bungkus cemilan berkata. “Terima kasih wahai
pemuda, kini aku bisa hidup dengan tenang.”
Niat pemuda yang awalnya ingin membeli cemilan lagi,
langsung hilang seketika. Ia kini hanya ingin pulang.
Dalam perjalanan pulangnya, pemuda juga berkata dalam hati. “Terima
kasih sampah, kini aku mengerti akan pentingnya menyimpan sesuatu sesuai dengan
tempatnya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar