“Hei Jono,
kenapa engkau tak memungut sampah? Biasanya kau kan yang paling rajin disini.”
Teriak Rama ke Jono.
“Loh? Memangnya ada sampah disekitar sini?” jawab jono.
“Loh? Memangnya ada sampah disekitar sini?” jawab jono.
Tiba-tiba Rama melemparkan sebungkus sampah kecil ke lantai, “Lah itu apa? Hahaha” ungkap Rama sembari tertawa.
Jono sedikit menggelengkan kepada, dan tanpa peduli dengan Rama, Jono memungut sampah yang Rama buang.
Aku yang melihat dari kejauhan menggelengkan kepala terhadap apa yang Rama perbuat.
Keesokan harinya, kejadian terulang, Rama mengejek Jono. Namun Jono tetap sabar dan memungut sampah-sampah yang dibuang Rama.
Tidak hanya itu saja, setiap hari Jono memungut sampah-sampah yang berserakan setiap yang dilihatnya. Ia memang yang paling rajin membuang sampah dikelas kami. Ia lah yang membuat kami bersih dari sampah.
Sampai suatu hari aku heran, aku bertanya pada Jono.
“Hei Jono. Setiap hari aku lihat kamu kok rajin banget buang sampah. Emangnya kenapa?”
"Loh. Emangnya kenapa. Gak boleh ya?” Jono malah bingung dengan pertanyaanku.
“Gak kok, bukannya begitu. Heran aja. Biasanya cowok itu kan gak rajin-rajin amat. Terbilang pemalas lah. Kadang juga joroklah.”
“Wah, hahaha. Gak semuanya begitulah Hana.” jawab Jono.
“Hehehe. Iya sih. Tapi kok kamu rajin banget mungutin sampah sih?” aku kembali bertanya apda Jono.
“Hmm.... Apa ya. Sebenarnya memang niat aja sih mungutin sampah gitu. Lagipula kalau aku pungutin sampahnya, yang aku lihat jadi bersih kan Han?” ungkap Jono.
“Kalo jadi bersih sih aku juga tau Jon. Hehehe. Tapi apa kamu gak sakit hati dengan Rama yang ngeledekin kamu terus?” aku kembali bertanya pada Jono.
“Oh... kalo itu sih biarin aja. Buat apa juga kita sakit hati. Biar aja sampah-sampah yang aku pungut dari nya itu menjadi saksi nanti. Setiap yang kita perbuat pasti ada saksinya kok Han. Tenang aja. Saksi aja ada, apalagi sanksi. Hehehe. Lagipula kan lumayan Han kalo kita ikhlas buang sampah, kan dapet pahala. Hehehe” ungkap Jono sembari tersenyum.
“Oh. Gitu ya Jon, oke deh Jon.”
“Iya Hanaa........... Eh ada satu lagi Han, aku pernah bermimpi kalo aku membuang sampah sembarangan. Tapi dalam mimpiku sampah bersedih dan menangis dihadapanku. Lalu ia bilang kepadaku kalau ia tak layak ditempat bersih dan merasa berdosa karena monodai tempat yang bersih. Bayangkan Han, sampah aja bisa merasa berdosa, apalagi kita. Itulah sebabnya aku jadi rajin mungutin sampaj. Aku jadi merasa lebih berdosa dari sampah kalau aku sembarangan membuang sampah.” Ungkap Jono dengan jelas.
“Wah... Makasih ya Jon.”
“Oke Hana, sama-sama.”
Mendengar jawaban dari Jono begitu. Aku hanya bisa tersenyum selama berjalan masuk ke kelas. Aku mulai sadar dan merasa bersalah karena membuang sampah sembarangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar